Jumat, 20 November 2009

Seorang Muadzin Berkata “ Kali Ini Bukan Sekedar Ritual “

Catatan benak Muadzin

Entah kenapa hari ini aku merasa ingin mandi dan menggosok seluruh tubuhku tanpa menyisakan sedikitpun daki dan kotoran. Seolah-olah ambisiku adalah melenyapkan semua najis yang melekat di setiap jengkal daging dan darah. Tekanan detikan jam menyadarkanku yang terpana kosong dialas cermin, 17.30 aku harus segera bergegas! Sekilas netra memandang pantulanku di cermin, dengan sarung biru tua pemberian ibu yang rapi melilit dan baju koko putih setengah menguning..( tersenyum ) karena entahlah…tapi rasanya aku terlihat tampan walaupun cermin tidak pernah mengatakan itu. ( benak buyar ) Aku terlambat !


Catatan seorang pengamen taman Cilaki

Hari ini aku lelah, hanya berteriak-teriak menyanyikan lagu yang selalu sama. Air liur kerap tidak terbendung, karena harus bernyanyi menghadapi mereka yang lahap memakan makanan di meja. ( Melirik gitar bergagang bengkok ) Dingin, air hujan dan jalanan menjadikanmu seperti gitar sampah, penuh karat, melengkung dan terkelupas. Apa bedanya kamu dan aku..karena tidak lama lagi kita sama-sama akan kehilangan suara dan mati terbawa arus got jalan. Jam berapa sekarang..kenapa dunia tampak sangat gelap dan sunyi? Hujan makin deras, aku mengangkat kedua kaki dan memeluknya, dingin..dan entah kenapa aku merasa bukan kedua lutut yang ingin aku peluk, tapi ibuku!


Catatan Resah Muadzin

Aku menaikan sarungku hingga lutut, walaupun tetap saja cipratan hujan membuat ujungnya kuyup. Sekelebat dari balik payung bergagang pendek aku melihat seorang ibu yang duduk berhadapan dengan anak kecil di atas kardus, mereka tertunduk bekerja bakti menghabiskan sebungkus nasi. Biasanya aku terbiasa dengan pemandangan miris, tapi entah dan entah…karena hari ini aku banyak berpikir “apakah kami sudah kehilangan Tuhan, sampai akhirnya Tuhan menjadi sungguh-sungguh hilang”



Catatan Resah pengamen Taman Cilaki

Hari mulai gelap, café-café pinggir jalan itu pasti sudah penuh dengan pengunjung ( menaikan resleting jaket ) Aku harus bernyanyi dengan gagah lagi, berharap mereka akan menyukai tembang-tembang Iwan Fals dan memberi beberapa keping receh ( jujur aku muak dengan lagu-lagu bernada melayu ).
Aku hendak melangkah ketika resah dan perasaan bersalah mendera. ( Tersenyum dan memeluk gitar usang ) “ KALI INI AKU TIDAK AKAN MEMBERIKANMU PADA HUJAN “.
Akhirnya dengan tekad yang mengendor aku menerobos hujan dengan gitar terbalut kemeja lusuh “hanya kamu keluarga dan teman yang aku milikki, biarkan aku menjagamu walau hanya dengan sehelai kain kecil, malam ini keluarkanlah suaramu yang paling nyaring..dan aku akan bernyanyi tentang bisunya persahabatan kita”


Catatan Muadzin di gerbang rumah Tuhan

Seperti biasa, hanya lengang dan bisikan ubin-ubin mesjid yang terlukis. Mereka merindukan derap kaki serdadu Allah, tapi kali ini telingaku mendengar ratapan yang lain “panggilah mereka! Panggilah mereka ! karena itu takdirmu” Aku hanya terduduk menunduk, siapa aku? Aku hanya manusia yang hafal bacaan adzan dan meneriakannya tanpa makna. Menarik nafas ketika waktu yang tiap hari aku temui kembali datang, waktunya untuk berteriak! Tapi sebentar, rasanya tubuhku sangat ringan tanpa bobot..aku limbung saat berdiri, otakku serasa penuh dengan kabut tanpa celah..Tuhan apa tubuhku reot? Aku kesulitan menegakkan kaki…( penuh kekalutan menengok berkeliling ) “ hey pak tua yang bersila di pojok sana, tolong aku, kenapa kamu buta kesulitanku “ aku heran karena tidak ada seorangpun yang memperhatikan, kenapa tidak ada yang menyadari “muadzin tak kunjung berdiri dan lantang berkumandang”.
Kalian dan aku manusia-manusia cacat netra batin, tahukah apa yang sekejap aku rasakan? Aku amat sangat ingin menyanyikan nada-nada seruan shalat, baru hari ini aku rindu dengan ayat-ayat pemanggil.Tubuhku bergetar menahan tangis karena tugas hari ini terasa sangat gagah, Ya Rabb…maafkan hamba yang berkelakuan seperti ayam di pagi hari ketika mengumandangkan adzan. Hanya berkokok tanpa makna. Beri kesempatan lagi untukku melantunkan satu seruan..cukup satu kesempatan! Aku meratap meminta isi dari kekosongan, berbisik…Tuhan ijinkan aku.


Dengan Basmallah dan iringan shalawat nabi aku berdiri dan melangkah mendekati mimbar..dan suaraku bergetar “Allahuakbar Allahuakbar “ kenikmatan dengan tangis dan kerinduan…seolah adzanku berkata kepada saudara-saudaraku yang kedinginan tanpa cahaya, Tuhan tidak pernah hilang…Tuhan tidak pernah hilang! (menangis)


Bisikan hati penghuni mesjid

Isi suaranya tampak lain, dia menangis dan hati kami menjadi begitu merindukan sebuah sujud. Suasana bisu, hanya ada suara hujan dan adzan yang penuh linangan air mata!


Catatan akhir resah pengamen Taman Cilaki

Aku terpaku dijarak beberapa meter dari gerbangnya, semula hanya lewat. Bukan kali ini saja aku mendengar suaranya bergema lewat toa, bahkan di waktu yang lama aku kerap menganggapnya seperti naskah yang sedang dibaca seseorang, itulah bunyi adzan yang bertahun-tahun selalu singgah di telingaku..kosong! (masih terpaku) kenapa lantunannya teramat menggangguku saat ini, aku menginginkan sebuah sujud dalam dan dalam, aku merindukan Tuhan yang tidak pernah aku kenali, aku merasa menangis mendengar sang pengumandang menangis dalam seruannya.
Kutengok bajuku yang dekil dan kotor, apa Dia mau menerimaku dalam keadaan begini? Bahkan aku kuyup dan menggigil. Ah tapi aku merasa tidak kuasa membendung kerinduanku, aku harus bertemu denganMu saat ini, aku ingin aku ingin aku ingin…aku hanya ingin melepas lelah dan menangis di pangkuanMu ( melangkah masuk dan tersenyum ketika air wudlu membasuh wajah yang lusuh )


Catatan Pengamen Taman Cilaki tentang seseorang yang menemukan

Kami baru menyelesaikan rakaat terakhir ketika kulihat sesosok tubuh masih ada dalam keadaan bersujud. Pikirku “ kenapa dia mangkir menyelesaikannya bersama-sama dengan kami “. Kebingungan tampak dimuka-muka para jemaah, dan itu berakhir ketika pak tua disampingnya berkata “ dia meninggal ” ( hening )


Catatan maut diujung tenggorokan

Aku merasakan kenikmatan tanpa ujung ketika menyembahMu, kakiku mulai melepaskan sesuatu ketika aku tenggelam dalam sujud, satu-persatu dan perlahan..hingga sampai diujung leher, aku hanya menyadari satu hal..Kamu mencabutnya dari badanku saat ini…nyawaku!
Seolah aku terbang dan memperhatikan mereka mengucapkan salam, sekilas kulihat mimbar yang tidak akan pernah aku sentuh lagi….Aku mulai tau kenapa wajahku terlihat tampan di cermin hari ini.


Catatan kebisuan hari ini adalah ketidaknyamananku bersama dengan Tuhan yang sepotong. Ribuan surat aku tulis diatas langit, dan pikiran terbelakangku mulai berceloteh “itu semua hanya kesia-siaan”.
Aku ingin mengenakan mukena bukan berhakikat sebagai seragam, tapi memang itu pakaianku.
Layang-layang dan surat tidak akan aku terbangkan lagi Tuhan.
Hanya ijinkan aku berdoa saja….Hanya berdoa!!

Friday 20-11-09

Surat di Atas Layang-layang

Adik, entah kenapa aku tidak bisa mengingatmu terlalu banyak. Yang tersimpan rapi di pojok memoriku hanya satu ruang putih di rumah bersalin, dengan sesosok bayi mungil berwajah bengkak…Ya adik, ibu kita kehabisan cairan ketika melahirkanmu keduniaku.
Hari ini aku menyesali waktu kita yang hilang. Hari ini aku menyesali kealpaanku mengenalkanmu pada layang-layang. Dan hari ini aku menyesali kebodohanku karena melewatkan gerak umur dan tawamu.

Aku ragu jika harus berkata “bertahanlah adikku”

Ronamu minim cahaya, setiap kita kembali satu atap….aku hanya mampu melihat kepalamu yang tenggelam di antara kertas gambar. Pensil, crayon, spidol yang mungkin lebih membuatmu bahagia dibandingkan harus berbagi cerita bersama kakakmu. Kakak? Apa aku layak dipanggil kakak? Apa pernah aku menjagamu? Apa pernah dari dulu aku mengajakmu bermain, atau sekedar menciummu ketika 22 meimu datang? Jawabannya : Ya Tuhan…aku menyesal….!

Adik, dengan apa aku harus menebus waktu.

Satu hari sebelum aku pergi meninggalkan atap kita, kamu tidur menemaniku yang ketakutan. Ceritamu, tentang menjadi sesosok anak yang baik..Ceritamu tentang menjadi seorang arsitek..Ceritamu tentang ibu dan bapa, dan kamu bertanya kenapa kakakku merokok, kenapa kakakku menyuruhnya melukis senja, ilalang, sebatang pohon dan seekor babon muda, kenapa harus selalu senja, kenapa harus seekor babon ( jujur aku tidak menjawab ) aku hanya berkata dalam hati : umurmu masih menjadi lakban dimulutku.

Malam itu kamu memintaku menceritakan satu cerita tentang Charlie lagi, novel berisi cerita khayalan tentang si dungu yang berubah menjadi jenius. Tanpa henti dia mengingatkan : bawa bukunya kesini ka, aku ingin membacanya. Ketika menulis ini aku tersenyum simpul, karena berkali-kali dia mengirimiku pesan pendek “ kalau pulang jangan lupa novelnya dibawa “ untuk alasan apapun itu, tapi aku tau dia menginginkan aku pulang.

Aku mau kamu kecil kembali, aku mau merekam ulang ketika kamu belajar melangkahkan kaki, ketika kamu belajar melafalkan kata demi kata. Aku mau mengingat kebahagiaan ketika kamu belajar memanggilku kakak…


Catatan ringkas buat langit

Layang-layang ini tidak akan pernah sampai ketangan adikku, karena aku membuatnya terbang terlalu jauh memasuki lorong awan dan tersangkut digaris langit yang sembrawut. Walaupun sehelai bulu elang menyeretnya keatas pohon depan rumahku, satu hal kenapa tetap tidak akan sampai…KARENA ADIKKU TIDAK PERNAH MENYUKAI LAYANG-LAYANG.

15 November 09
Buat Wildan Fadillah yang selalu menyukai kecap

Jumat, 06 November 2009

Cerita mata tentang para kunang-kunang

Because Ladies first Monkey next

Namanya Debie ( jujur nama panjangnya saya ga tau ), sosok ini baru satu bulan saya kenal, hanya saja rasanya seperti sudah lebih dari itu..heuheu mungkin saya yang berlebihan tapi itu kenyataan. Dia baik, cantik, peduli terhadap teman, malas nyuci baju ( sama aja seperti saya :D ), rajin kuliah, tipe peroko kereta api, dulu doyan nangis keras-keras (sekarang punya gundul, jadi agak aman terkendali haha ) tentang hal-hal yang lain, mungkin saya akan lebih mengenalnya lagi nanti. Curahan pribadi : jujur saya jarang bisa berinteraksi dengan sosok perempuan, apalagi mereka yang menganut faham feminisme. Ini hal yang agak baru dalam dunia saya yang kecil, tapi bersyukur….karena perbedaan ketika bersama laki-laki dan perempuan jadi bisa saya ketahui, the answer is saya terkadang merasa nyaman dengan sosok perempuan, karena ternyata banyak hal yang mereka (laki-laki) tidak bisa mengerti.

Mari berbicara tentang sosok perempuan saya yang kedua, namanya ika dan lagi-lagi saya tidak hafal nama panjangnya  ( harus saya tanyakan). Orang ini “aneh” tapi dalam artian yang baik, meskipun kepalanya terhalangi kerudung tapi yang saya nilai dari pribadinya adalah kebebasan. Ya dia adalah sosok perempuan yang menginginkan kebebasan….apapun termasuk ketika berekspresi! Saya senang karena bisa bicara semua hal (termasuk yang jorok-jorok) tanpa harus berusaha membatasi diri, tanpa harus berkata pada diri sendiri “mia tolong jaga mulut karena dia adalah perempuan”.

NB: Saya memang aneh, psikologi saya mungkin sedang tidak baik, tapi yang saya tahu…disini bersama-sama dengan mereka…saya akan jauh lebih baik. Maaf jika sekarang saya cacat….






Euh sabenerna mah hoream ngomongkeun jelema hiji ieu ( ngadadak ngomong sunda ) namanya Widi (mun teu salah Widi Nursabana) meureun eta ge gustiiiiiiiiii teu apal tuda da tara ngecek KTP. Seperti segi bahasa penulisan yang sangat Sunda sekali, dia memang Sundanese sejati! Ketika masih satu kantor (halah) telinga saya selalu diingatkan kembali terhadap music-musik Sunda, karena memang dialah orang yang selalu memekakan telinga kami dengan music-musik daerah Sunda yang seharusnya saya kenal dan cintai. Anak-anak memanggilnya DON CHIPS (arti nama tidak akan dijelaskan ) . Dia tipikal orang yang rada riweuh, hobi ngoray ( tapi bukan berarti penganut poligami setelah menikah ), dulu dia sempat menjelma menjadi manusia jadi-jadian ( ketika malam mukanya putih karena obat pemutih ) dan mukanya sempat bengkak-bengkak alias bareureum jiga bujur monyet karena efek dari itu. Tapi diluar itu Widi orang yang sangat baik, dia setia kawan, pekerja keras, dan pastinya siapapun perempuan yang jadi istrinya tidak akan mungkin ditelantarkan dengan kelaparan hihihihihi ( gararetek nulisna ).

NB : Satu nama satu cerita, walaupun tidak banyak yang bisa saya katakan tentang teman-teman…tapi setidaknya lewat ini saya hanya ingin mewakili ucapan terima kasih yang tidak terhingga. Karena hidup saya sangat berisi, lewat tawa-tawa aneh saya jadi bisa mengenal banyak warna selain hitam, dan itu sudah jadi cukup alasan kenapa saya mencintai kalian.

Namanya Bambang Heryanto alias Asep ( nama yang diberi petugas sensus ), buat saya manusia papan satu ini terlewat complicated, kadang dia seperti tokoh komedi, kadang dia seperti penulis novel misterius, kadang dia pelakon drama dan sinetron, kadang seperti perempuan yang hobi muntah karena sesuatu yang menjijikan, kadang gagah ( dengan vesva  ), kebanyakannya dia sangat konyol! Atse adalah orang yang sangat penakut, dia pernah lari terbirit-birit meninggalkan saya karena melihat bendera kuning di pinggir jalan waktu kami pulang dari warung ( itu menyebalkan ), tipe penggeli kelas akut, dan hobinya menusuk pantat dengan jempol yang terselip diantara jari ( kepalan tangan symbol cabul ) . Huff jujur imajinasi saya sering menginginkan tangannya terikat keatas pohon, lalu menggelitikinya sampai dia tau betapa perkasanya saya ( jadi dia akan berpikir puluhan kali ketika berniat menjaili ). T_T tapi dia baik, hatinya lembut, meskipun tidak terucap tapi saya tau dia menyayangi orang-orang disekitarnya termasuk saya (mungkin hahaha)

NB : Hanya berharap teman saya yang satu ini tidak mengembalikan alcohol ketubuhnya dengan kerap, karena saya menyayanginya. Jika dia mati karena lever, kami pasti menangis.

Yeah tiba saatnya memutar memori tentang satu nama, kalo tidak salah nama penjangnya Permana ( Cepi Permana ) kalau salah saya harus malu! karena saya mengenal Cepi sudah cukup lama. Diantara kami dia termasuk kedalam golongan sesepuh, I mean TUA hahahaha sosok father ketika saya pribadi dan mungkin juga teman-teman yang lain butuh nasihat. Talkless Do More ( meminjam istilah iklan ) dia memang seperti itu, yap saya pikir dia adalah sosok pekerja keras, meskipun kadang pola kerjanya “aneh”. Bodohnya saya tau itu untuk kebaikan tapi terkadang sebal, ketika Cepi melarang saya menenggak alcohol ataupun berkelebihan dalam merokok. Pernah suatu ketika dia berkata “ belajarlah apa yang bisa kamu pelajari disini mi “ Walaupun saya hanya bisa nyengir, walaupun saya hanya bisa tersenyum kecil mendengarnya, tapi saya tau apa yang dia katakan itu benar.

NB : belum menikah saja badanmu besar, huh kunanti pembengkakan yang lebih setelah kamu menikah

And next person namanya Andri Ferdiana alias ugex alias galer, ketika tidur dia hobi memasukan tangan kedalam celana dan mulai menggaruk. Matanya bagus, pupilnya berwarna coklat..dan orang bilang “manusia dengan tipikal mata coklat adalah orang yang setia ( AMIN ). Dia baik, sering tidak lupa terhadap kewajiban beribadah, dan yang paling berkutat kuat dalam pikiran saya adalah “ dia termasuk salah satu manusia yang beruntung didunia ini “ karena apa…karena dia tau apa yang dia inginkan! Ketika saya menulis ini dia sedang terduduk di salah satu pojok kamar dengan memamerkan sederet gigi, jujurnya kepala saya selalu tertoleh alias celingak-celinguk karena takut tiba-tiba dia melompat mendekati monitor dan membaca ini. Tapi detik mundur dari sekarang dia berkata ” ayo semangat menulis “ hahahahahaha kata yang tidak penting, tapi mendadak saya jadi bersemangat lagi walaupun masih banyak teman-teman yang belum saya ceritakan.

NB : Mau tidak tukeran mata, I love your eyes maaaaaan



Kapten Jack, saya tidak tau nama aslinya siapa….yiha dia selalu jadi pelopor dalam hal mabuk ( wow ) itulah saat-saat dimana dia menjadi seorang kapten dan kami adalah anak buahnya. TAPI DIA JARANG MENINGGALKAN SHALAT, hobinya ketawa, rokoknya djarum super alias rokok jambu. Maaf jika cerita saya di baris-baris pertama agak menimbulkan kesan buruk. Tapi dimata saya dia sosok yang baik hati, dia setia terhadap pasangan, dan selenting dari cerita yang saya dengar tentang hidupnya…saya hanya bisa berkata “ SALUT ”.

NB : Kapten mari bersama menghabiskan malam lagi,dan saya harap saat itu mulut cepi dikasih lakban sebentar heuheuheu karena sayapun menginginkan minuman hangat.

Ari Nugraha, kribo, tidak tinggi, mukanya manis, baik, selalu rela meskipun piket di kosan B27 setiap hari. Termasuk tipikal seseorang yang tahan banting dengan guyonan, saya rasakan begitu karena Ari adalah salah satu dari para korban ledekan teman-teman. Tuhan lebih tau ketika saya bilang teman-teman saya adalah orang yang baik, dan saya berani bersumpah kalau Ari , adalah teman kami yang amat sangat baik….Ketika malam menjelang dinihari kepalanya selalu sakit karena migrain, entah karena imbas dari kami semua yang hobi bergadang, atau entah pengaruh dari kepalanya yang selalu memakai bondu dari besi ( yang kedua ini saya menulis dengan tidak yakin ).

NB : Buat teman saya yang satu ini saya hanya bisa berkata jangan pernah menyerah dengan keadaan, saya yakin Ari pasti bisa melewati apapun yang bernama rasa sakit dan cobaan. Ayo semangat ri. Ceuk barudak mah ceunah anunya gendut tapi pendek alias buntet ( sakit perut nahan ketawa ). Hampura dulur…

Sosok yang satu ini adalah pasangan dari perempuan yang bernama ika, namanya entah Fuad, entah Mahmud, entah siapa ( asli mesti melihat KTP mereka ). Bulunya banyak, kulitnya putih, tidak terlalu tinggi, dan dimata saya Fuad dan Ika adalah pasangan yang aneh tapi serasi. Fuad memiliki janggut berwarna merah yang kalau saya lihat mirip dengan ilalang, ah terlalu lebay jika saya harus bilang semua teman-teman saya baik hati, tapi itulah kenyataannya…Semoga mereka akan makin rela berbagi rokok dengan saya setelah membaca ini.

NB : terima kasih rokonya at hahaha sayah mentaan terus

Nama ini dari awal penulisan selalu saya hindari, tapi toh ujunh-ujungnya pasti tercantum juga.Dia Kautsar Akib atau Tito brajamusti atau Jemi. Dua kata buat dia adalah seram dan hitam, jujurnya saya menganggap kalau jemi adalah salah satu sosok yang sangat mirip dengan almarhum Ivan Scumbag ( perawakan ). Buat saya dia adalah sosok abang penganut faham radikal, hidupnya keras dan dia mencapai semua target dalam hidupnya juga dengan keras, bahkan ketika menjadi seorang dosen di kampusnya, saya tau kalau itu adalah salah satu kemenangan dari hidup yang selama ini dia perjuangkan.
Tidak akan cukup satu novel jika saya harus menceritakan mereka, teman-teman saya…mereka yang saya anggap para kunang-kunang…..meskipun ketika saya menulis sesuatu yang sedikit ini banyak diganggu monster yang bernama aseu, tapi itu bukan halangan saya buat berkata “ saya menyayangi mereka mungkin lebih daripada saya menyayangi pacar saya sendiri hahaha. Maaf saya tidak bisa melanjutkan..masih banyak yang belum saya bilang, tapi teman-teman saya yang mulai berjubel di kamar ini sudah tidak bisa memberi toleransi apapun tentang privasi..
Maaf buat Gundul, Arip, Jadul, Ahonk, Gareng dan kalian semua yang selalu berada disisi saya….


Special for Friant….tidak akan ada satu katapun tentang kamu, cukup benak yang berbicara
Terima kasih

November 06, 2009
Soundtrack lagu-lagu cengeng anjjjjjjjjjjjjjjjjjjjing hahahahahaha piss ah

anjing day

Detikan kita memang tidak akan menjadi bangkai, hanya terbujur kaku tanpa hembusan..Lihatlah langit yang selalu ditemani katarak setan, jika kesejatiannya adalah biru..dia hanya akan bisa mengintip dari celah-celah langit yang retak.
Hanya cukup biarkan detikan masa depanku sendiri, tanpa iringan narasi melankoli ataupun music sayumu, karena telingaku segera akan tuli.
Hanya cukup biarkan menjadi busuk, tanpa pengawet yang jiwamu tawarkan karena perasaku segera akan tawar.
Hanya cukup biarkan manusia kerontang tanpa airmu yang berbau amis, karena kulitku segera akan bersatu bersama langit.
Ini buatmu, ini buat penaklut mautku, andai bisa andai berkuasa…aku hanya ingin kembali kedalam rahimmu, mungkin hangat mungkin tidak entahlah karena aku lupa…tapi disana aku tidak menangis, aku tidak membenci, aku tidak mencintai darah lain selain darah yang menghidupkanku. Bu, sering kamu bilang kenapa selalu hitam yang aku kenakan, kenapa tidak kuning, kenapa tidak merah ataupun mungikn hijau seperti warna yang kerap kamu banggakan…sungguh aku ingin, sungguh demi kecintaanku pada senyummu aku ingin bu…tapi setetes cat warna-warni itu tidak pernah sampai ke jiwaku, bahkan hanya sebatas di benak semata..Maafkan aku!
Tuhan, selintas dan sejenak aku berdiri mengangkat jari tengahku padaMu…Kamu dimana? Kamu bersemayam dikuburan mana? Biar aku gali, biar aku buang nisan yang bertulis nama Tuhan..Aku benci terus-menerus berdoa, aku berlari dengan doa yang tidak pernah mencapai garis akhir. Atau ini memang hal yang membuatmu tertawa? Seperti langit yang Kamu jadikan terang, kelabu, hitam ataupun lagi-lagi hanya senja senja dan senja!!!!




01 November 1, 2009
Aku hanya punya para kunang-kunang di hunian kerontang, terima kasih….

Sabtu, 06 Juni 2009

embun kini mengeruh
Dijilat anjing lalu pergi
matahari cemas memandangi detikan jam
sembrawut kadang melotot, kadang mengendap di balik awan
"malas aku mengeringkan baju-baju usang itu"

(terduduk menguraikan kepenatan)
satu helai, dari ratusan kekusutan
kusandang dibahu, hilang ekor talinya terbang ke got
gitar kusam kudentingkan lagi
apa ini?
bukan nilon putih tapi menghitam

(ide berontak kehilangan kamus)
sampah...
hanya sampah yang bisa aku tulis sekarang
pencarian tanpa terminal
lelah...
kakiku bengkak dan beri-beri
merangkak?
lalu kapan sampai?

Minggu, 31 Mei 2009

Aku ingin memandang ka'bah sepertimu

Cerita ini akan bergulir dan akan terus terurai karena aku mempunyaimu sahabat, apa yang kamu tangkap di otakmu ketika membuka mata di pagi yang masih gulita? apa yang kamu pikir ketika kamu terhempas disujud terakhir?jangan sampai matamu sayu saat bertemu siang.
Ratusan mil kamu menghabiskan keringat untuk mencari kesejatian, aku tidak akan kalah...
Akhir-akhir ini yang bergelut di otak dangkalku adalah sebuah nama tentang persahabatan, masa lalu dan takdir. Ketika bertahun-tahun aku terhenyak diantara adukan ketidakmengertian akan hidup, aku bertemu dengan sapaan seorang sahabat...Suatu kata yang aku bilang "entah" kini mulai membias...Dan satu lembaran yang hitam kini mulai jadi kelabu (subhanallah), aku bertanya-tanya tanpa arahan, apa yang bisa membuatnya ada disana? sahabat cengengku mengabdikan kesejatian dari nama perawat di madinah sana?
Malam selalu merangkak, tapi tanpa ada jeda buatku untuk bisa memejamkan mata..Aku hanya terpekur menatapi dinding-dinding kosong, masih dengan rasa penasaran yang teramat menggila..., Dan aku bilang..aku harus bicara denganmu sahabat.

Sekarang aku adalah siang, waktuku untuk menggali bulir-bulir tanah yang menimbun semangatku..Sahabat...bantu aku berbicara kepada kota, bantu aku bertutur kepada orang-orang yang selalu meremehkan arti kata juang. Ijinkan aku menoreh coret demi coret tinta atas namamu.
Kita akan menjadi senja, dan aku mau ketika senja itu datang...kita sama-sama terduduk di kursi malas...tanpa ada torehan rasa sakit

Sabtu, 30 Mei 2009

Menunggu senja di kota angin

Kali ini aku terduduk di kursi goyang
Hanya dengan memandang kelakar di sudut masa lalu
aurora berbias kematian....
Langit tampak indah di pelupuk
Kuingat dengan serentak...,seorang sahabat yang terletak di dekat kota Tuhan
Berjuang dan menjadi manusia nyaris sempurna
Kerudung yang tak menghalangi geraknya merangkul manusia2 sekarat
Sungguh kesejatiannya sebagai seorang perempuan mengusik empatiku..
Ya...dia adalah Fitri, Aku mengenalnya ketika dia terduduk di sebelahku di SMU
Dia mungil, lembut, dan agak cengeng aku pikir...Dulu aku sering berbagi apapun, cita-cita...harapan...cinta..Tapi sedikitpun aku tidak pernah membayangkan, kali ini waktuku berpijak di dalam kegelapan dan sunyi.., dan sedikitpun aku tidak pernah berangan mendengar dia ada di sebuah rumah sakit di kota madinah sana (subhanallah. Bertahun-tahun aku hampir kehilangan jejaknya, dan kini sang khalik memberi isyarat nafasnya lagi...aku bertemu lagi dengannya di dunia maya.
Ingin sekali aku memeluknya, bercerita tentang semua titian tangga yang aku pijak...Ingin sekali aku membuka kacamatanya, tergelak melihat lagi sorot matanya yang lembut...semoga disaat nanti aku tidak melihat kelelahan.
Ya Allah lindungi dia disana..

(buat sahabatku Fitri Wulan yang berjuang di kota madinah, aku mengagumi keperkasaannya menjadi seorang perawat di tengah2 keasingan)